makanan cepat saji dijual di depan antrian abadi aku ke sini hanya karena harga lihatlah, barisan di belakang punggungku juga ekspresi wajah hasil cetakan dari niat yang sama tapi harga kesabaran yang perlu dibayar cukup mahal banner LED di food court mengajak orang-orang tersenyum dengan emoticonnya sayangnya, ekspresi itu hanya mengingatkanku pada film traumatis gelap berisi kebrutalan kutonton minggu lalu dari rekomendasi di forum diskusi bertopik kedamaian bau parfum di kemeja orang-orang saling berperang memperebutkan dominasinya di udara tertutup ini tetap saja pemenangnya adalah bau bahan panggang dan bau gosong griddle membawa kekuatan pemicu mual di atas kekacauan campuran bau parfum itu selesainya pesanan cepat sajiku menyeretku keluar dari antrian abadi di atas meja kayu palsu yang fana adalah rasa kenyangku sesekali aku melirik ke arah samping, para pemakan lahap makanan semacam ini sesekali aku melirik menyempitkan fokus, pada layar smart...
hanya kutinggal sebentar hanya sebentar aku terkapar di bangsal rumah sakit dunia telah bergeser sekembalinya aku pada kesembuhan kulihat dunia bergeser terlalu jauh dari tempat terakhir kesadaranku berdiri aku kembali ke hunian dengan meremas nota pembayaran puluhan juta dari rumah sakit (sesal sial yang sesak) membiarkan kesadaranku melambung pada ketinggian melihat diriku sendiri sebagai sel kecil yang mengalir pada denyutan nadi jalan kota ini setiap garis pemisah petak-petak gedung setiap jalan pembelah area wilayah dan setiap pembatas perbatasan kota ini aku melihat kedua sisi bergeser ke arah berlawanan mirip glitch di software murahan hemat budget demi margin keuntungan produktivitasku semua hal semua hal, telah bergerak ke masa depan ke arah degradasi meninggalkanku yang memakai hoodie masa lalu penulis favoritku telah hilang dari peredaran rak-rak buku di toko online membawa tsunami judul baru dan gaya bergeser terlalu jauh dari tempat terakhir kesadaranku b...