hanya kutinggal sebentar
hanya sebentar aku terkapar
di bangsal rumah sakit
dunia telah bergeser
sekembalinya aku pada kesembuhan
kulihat dunia bergeser terlalu jauh
dari tempat terakhir kesadaranku berdiri
aku kembali ke hunian
dengan meremas nota pembayaran puluhan juta dari rumah sakit (sesal sial yang sesak)
membiarkan kesadaranku melambung pada ketinggian
melihat diriku sendiri sebagai sel kecil yang mengalir
pada denyutan nadi jalan kota ini
setiap garis pemisah petak-petak gedung
setiap jalan pembelah area wilayah
dan setiap pembatas perbatasan kota ini
aku melihat kedua sisi bergeser ke arah berlawanan
mirip glitch di software murahan hemat budget demi margin keuntungan produktivitasku
semua hal
semua hal,
telah bergerak ke masa depan
ke arah degradasi
meninggalkanku yang memakai hoodie masa lalu
penulis favoritku telah hilang dari peredaran
rak-rak buku di toko online membawa tsunami judul baru
dan gaya bergeser terlalu jauh
dari tempat terakhir kesadaranku berdiri
overload
overload,
bahkan penulis-penulis yang bertebaran
mengkritisi overload information dengan cara yang membuat overload
musisi favoritku telah hilang dari tangga ketenaran
katalog anime, film, video game,
menawarkan akses kemudahan… berpikir?
kemudahan berpikir???
aku menarik napas dalam-dalam
pergeseran udara membentuk glitch
dan kukucek mataku yang memburam
pasti ini mekanisme perlindungan diri
ketika mataku merasa tercemari
pemandangan kotor ini
dunia bergeser
waktu berjalan
bertudung hoodie masa lalu,
aku ada di persimpangan efek nostalgia dan pengakuan pada perubahan
jalan-jalan baru dibangun di atas daratan algoritma
akses lain untuk kemudahan berpikir lagi
lagi???
mataku memburam lagi
P.O.E.M: Poem Of Extruded Mind Seri #00000018: Sekembalinya Aku - Perspektif Ketertinggalan Budaya dalam Percepatan Perubahan
![]() |
| Credit to ArtTower/Pixabay with modification |


Komentar
Posting Komentar