![]() |
| Geralt/Pixabay |
Algoritma. Personalisasi. Rekomendasi. Doom scrolling. Kulihat banyak yang mengeluhkan soal itu. Sudah sejak lama bahkan. Aku juga sangat sangat merasakannya, seperti dikurung di jenis konten yang itu-itu saja. Hanya karena kategorinya mirip dengan konten yang sebelumnya kulihat.
Platform aplikasi yang memutuskan konten apa yang akan kita nikmati selanjutnya, dari sistem rekomendasi mereka. Akibatnya sulit bagi kita yang ingin mencari konten-konten variatif dari berbagai macam topik. Bahkan platform micro blog seperti Medium dan Tumblr yang katanya lebih ramah, juga tetap memakai sistem rekomendasi berdasarkan interaksi.
Kalau dipikir-pikir, algoritma rekomendasi sebenarnya membantu kita menemukan hal yang sesuai minat. Ya, awalnya. Tapi kamu juga pasti lama-lama kepikiran kan, kita jadi kurang eksploratif karena apa-apa sudah disediakan dan direkomendasikan. Hal terparah yang ada di algoritma rekomendasi adalah: bahkan fitur pencarian pun sudah diberi algoritma serupa.
Apa yang aku temukan di pencarian (YouTube, Tiktok, misalnya), hasilnya tidak akurat sama sekali. Jauh. Akurasi pencarian rupanya sudah tidak dianggap relevan oleh mereka. Padahal ini satu-satunya cara menemukan variasi baru dari informasi yang kita konsumsi. Juga untuk mengurangi repetisi dari jenis kategori dan minat yang sudah dipersonalisasi. So, apa boleh buat. Sepertinya aku memutuskan untuk menjadi web surfer saja. Kembali ke cara lama, kurasi informasi ada di tanganku.
Are you with me?
Netizen, Lurker dan Internet Surfer
Netizen atau warganet. Itu sebutan bagi para pengguna internet di masa sekarang. Kita bisa langsung bayangkan apa aktivitas mereka: posting, like/upvote, comments, scrolling. Ada juga istilah-istilah lain yang spesifik, biasanya untuk situs berbentuk forum diskusi seperti Quoran untuk pengguna Quora dan Redditor untuk pengguna Reddit.
Istilah netizen sendiri dipopulerkan oleh Michael F. Hauben, seorang author dan teoritis internet pada 1990-an. Gabungan dari kata internet + citizen. Seorang warga di dunia internet. Memang awalnya istilah ini ditujukan untuk pengguna internet yang benar-benar aktif, punya partisipasi dan kontribusi dalam komunitas internet. Menjadikan internet sebagai sumber daya sosial dan intelektual. Internet dicerminkan sebagai struktur sosial yang sama seperti dunia nyata.
Di sisi lain, ada juga istilah internet lurker, yang sudah lebih dulu populer sejak 1980-an. Lurker, pengendap-endap, ini pengguna internet yang sifatnya pasif. Hanya mencari informasi, membaca, mengintip, mengamati, dan kemudian pergi tanpa ada interaksi. Tidak berkontribusi pada perkembangan komunitas saat itu. Oleh Michael Hauben, mereka bahkan tidak dianggap sebagai bagian dari netizen.
Dari konteks yang berbeda, muncul juga istilah internet surfer. Istilah ini dipopulerkan oleh seorang pengajar bernama Jean Armour Polly pada 1990-an ketika internet sudah mulai populer. Ia mendeskripsikan aktivitas menjelajahi internet sebagai “surfing”, di mana internet dianalogikan sebagai lautan.
Berbeda dengan istilah lurker dan netizen yang merupakan kerangka sosial, surfing the internet lebih dekat sebagai kegiatan praktis. Tujuannya adalah untuk mempermudah pengajaran kala itu.
Jadi jelas ya, netizen dan lurker adalah kerangka sosial, sedangkan surfer adalah kerangka praktis. Aku membahas poin ini, supaya nanti ketika aku mulai menggunakan kata web surfer, kamu tahu konteksnya. Bukan reaksi individu terhadap sosial di internet, tapi reaksi seorang user terhadap sistem di internet.
Menjadi Web Surfer
Di esai ini aku akan menggunakan istilah web surfer saja (alih-alih internet surfer). Selain lebih singkat, juga karena lebih condong hubungannya dengan halaman web, website, dan link.
Jadi apa sebenarnya yang kumaksud sebagai web surfer ini? Pada dasarnya, ini adalah kegiatan kurasi website secara mandiri yang jadi preferensi personal. Alih-alih mengandalkan rekomendasi yang disediakan oleh media sosial dan jenis platform lain, kamu memilih hanya mengakses apa yang kamu perlukan, apa yang kamu inginkan dan apa yang memuaskan. Menurut definisimu sendiri.
Rekomendasi konten dan informasi dari platform online, itu sebenarnya juga bentuk lain dari kurasi. Mereka mengkurasi konten berdasarkan personalisasi (kebanyakan pengambilan data dan pelacakan bertujuan untuk ini) yang sudah terekam.
Menjadi web surfer artinya:
- Menggunakan internet secara aktif dan eksploratif
- Peduli pada manajemen link website di folder bookmark atau catatan lain
- Tingkat atensi tinggi
- Punya filter alami terhadap lautan informasi
Untuk menjadi web surfer, yang kamu perlukan hanyalah rasa penasaran, browser dan search engine apa saja. Kelihatannya sih sederhana. Tapi nyatanya tidak terlalu. Di hari-hari pertama aku mencoba menutup semua media sosial dan mengandalkan search engine, tidak begitu banyak hal menarik dan memuaskan yang kutemukan. Sebagian besar hanya berkutat di website-website portal yang generik. Dan ini terkait dengan keterbatasan search engine yang kubahas di poin selanjutnya.
Keterbatasan Search Engine
Agak ironis sebenarnya. Mesin pencarian terbesar, Google, yang tujuannya untuk mengindeks berbagai website, kini justru berbalik menjadi pembatas. Banyak website, terutama web personal, tidak terindeks sama sekali. Dulu, Google yang aktif mencari website untuk diindeks. Sekarang, pemilik website yang harus datang sendiri meminta Google untuk mengindeks. Itu pun seringkali tidak langsung disetujui karena alasan teknis di website yang didaftarkan.
Ada alasan klasik kenapa ini terjadi. Spam dan abuse. Lika-liku Google sangat panjang dalam mengoptimasi indeksasi website. Algoritma terus diperbarui agar tidak diketahui oleh para spammer dan tukang plagiat yang berniat mengeksploitasi.
Mungkin kamu ingat saat Google masih menjadi tempat utama saat buka browser. Waktu itu masih banyak website dan blog yang isinya benar-benar hanya keyword. Tidak ada apapun di dalamnya. Hanya spam. Tapi bertebaran di halaman pertama Google dan mengganggu pencarian. Lucu juga sih, kalau misalkan dulu kita buat artikel, kemudian spam keyword di bawah artikel tersebut, website kita punya kemungkinan ada di halaman pertama.
Karena hal itulah akhirnya pihak Google pun mengembangkan apa yang disebut SEO (Search Engine Optimization). Hanya halaman web dengan kriteria tertentu yang berhak mendapat rank tinggi di pencarian. Tidak berhenti di situ, Google kemudian menambahkan lagi E-A-T (Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness) dan kemudian disempurnakan menjadi E-E-A-T (Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness) untuk menilai kualitas website. Website bertopik keuangan dan kesehatan sangat bergantung pada ini.
Perlahan-lahan website spammer dan plagiator hilang dari peredaran. Ini kabar baik. Tapi ada dampak lain yang kurang mengenakkan. Blog-blog personal yang punya suara unik, genuine dan membawa kita pada pengalaman seru juga ikut tergerus. Rank-nya turun karena kalah di E-E-A-T. Sebagian bahkan tidak terindeks karena tidak meluangkan banyak waktu melakukan SEO.
Konten Informatif dan Konten Kreatif
Kamu secara intuitif pasti sadar, bahwa konten di internet pada dasarnya terbagi menjadi dua kelompok: konten informatif dan konten kreatif. Sebagian merupakan gabungan keduanya. Setelah menjadi web surfer, perbedaan itu akan sangat terasa. Hasil surfing kebanyakan adalah konten informatif. Konten kreatif biasanya lebih sulit ditemukan. Biasanya lebih sering ditemukan secara kebetulan atau tidak sengaja.
Google dan search engine lain memang sangat ideal sebagai pintu masuk konten informatif. Penasaran dengan sesuatu? Tinggal googling: apa, bagaimana, kenapa, kapan, di mana.
Sedangkan media sosial adalah tempat ideal untuk konten kreatif. Tidak perlu mencari apapun, sudah disediakan berbagai postingan. Tapi justru algoritmanya yang bikin jenuh. Dan tulisanku sepanjang ini pun hanya untuk mencari alternatifnya.
Namun begitu, aku sebenarnya cukup sering menemukan website-website yang unik dan genuine. Apalagi jika itu blog personal. Itu terjadi setelah aku terbiasa lagi menjadi web surfer, mengikuti intuisi, klik link sana sini karena iseng. Begitu nemu, langsung deh tandai sebagai bookmark biar nggak hilang.
Tertarik Menjadi Web Surfer?
Web Surfer, bagaimanapun hanyalah salah satu dari beberapa alternatif lain. Ada yang berusaha melepaskan total media sosial, ada yang lebih memilih beralih ke AI, ada juga yang hanya sekedar pindah ke platform yang lebih “ramah”.
Itu sebenarnya sih soal preferensi saja, ya. Buatku internet sudah mendarah daging, jadi tidak mungkin aku melakukan detoks dengan melepas gadget secara ekstrem. AI juga terlalu “tolol” untuk dijadikan sumber informasi dan tanya sana sini. Terlalu sering aku mendapat hasil misleading. Stay di satu platform pun bukan tipeku. So, aku menjelajah secara anonim ke segala penjuru yang bisa kujangkau saja sebagai web surfer.
Apakah web surfer artinya mengisolasi diri dari interaksi? Tidak juga. Karena aku masih pakai medsos, tapi hanya untuk komunikasi atau rileks sesekali, bukan untuk cari informasi. Bahkan YouTube pun lebih sering kugunakan untuk membuat playlist musik. Ini hanya perbedaan cara mendapat konten.
Jika kamu tertarik, kamu bisa ikut jadi web surfer dan mengurangi ketergantungan pada algoritma. Lebih seru dengan sensasi discovery yang didapatkan.

Komentar
Posting Komentar